Senin, 12 September 2011

Memory Card Paling Canggih.


Setelah konsultasi dengan Abah DNA ini akan saya tulis dalam 3 tulisan.
  • DNA (Memori card paling canggih).
  • DNA dan Qodlo’ Qodar Allah.
  • DNA dan Janji kita.
Obrolan dengan pak Dokter (ini Prof. yang ngaku dokter dan mau ngaji, tapi nggak mau disebutkan namanya) di serambi Pondok Pesantren Abah, sangat menyenangkan, panjang dan melelahkan pikir, karena banyak istilah yang banyak tak kumengerti sehingga banyak ilmu baru yang bertumpahan di majlis itu, dengan istilah yang “mbundet” dan asing di telingaku, kucoba menterjemahkannya disini, semoga dengan bahasa yang agak ‘nyeleneh’ mudah dipahami.
Anda punya HP? Tolong dikeluarkan dan saya mau lihat MMC-nyakata pak dokter setelah duduk diantara kami, saya manut saja dan menyerahkannya HP dan MMC yang telah aku keluarkan pada pak dokter, di MMC ini tertulis 2 GB, hebat ya barang segini kecilnya mampu menampung 2 000 MB atau 2.000.000 KB, atau 2.000.000.000 Byte., barang ini dapat menyimpan foto, lagu, video, namun sebatas kapasitas yang tersedia. Barangnya tipis, kecil, warnanya hitam, koq bisa ya? Sebuah kehebatan tehnologi manusia yang betul-betul hebat dan ini akan mengalami perkembangan, mungki 5 atau 10 th kedepan kapasitasnya mencapai ratusan GB.

Saudaraku, Kehebatan MMC buatan manusia ini belum dapat mengalahkan memori super canggih, dengan ukuran super kecil, dan daya tampungnya super besar. Yaitu DNA singkatan dari Deoxyribonucleic Acid, atau Asam Deoxyribonucleit. DNA mungkin merupakan salah satu nikmat Allah yang sering kita abaikan, dikarenakan kita tidak mengetahui apa itu DNA. Dan kesalahan kita malah karena itu istilah kedokteran malah menjadikan momok untuk tidak mau mengerti.
Pernah kah kau sadari sesuatu yang melekat dalam diri kita ini penuh dengan tanda-tanda kebesaran Allah? Salah satunya kehebatan Allah menunjukkan tehnologi rangkaian asam basa. Tehnologi Allah lebih canggih lagi, sebuah memori yang besarnya hanya satu sel mampu menyimpan dan bahkan menentukan masa depan. Memori itu tersusun dalam satu molekul yang menyimpan memori hidup seorang manusia, tentang ketika ia lahir sampai meninggal, mulai kapan akan tumbuh uban, tumbuh gigi, apakah rambutnya nanti ikal, lurus, pada usia berapa dia akan memakai kacamata, apakah warna matanya biru, coklat, hitam dan masih banyak lagi memori tentang fisik tubuh kita.

Saudaraku, butiran kecil seper sekian milyard memori itu namanya DNA. Strukturnya sangat kompleks menyimpan informasi penting tentang program hidup seorang manusia, sebuah memori yang aktif dapat mempengaruhi pembentukan dan matinya sel dalam tubuh, menentukan kapan tekanan darah kita naik dan turun, pada usia berapa kita mengalami keriput. Bahkan beberapa kyai berpendapat bahwa DNA merupakan System Program  manusia dari awal hingga akhir dari sang Maha Pintar.

Sejak pertemuan 23 kromosom bapak dan 23 kromosom ibu, menjadi 46 kromosom manusia baru, dengan program yang telah ditetapkan, program tersebut akan mempengaruhi pembentukan organ tubuh dan kelengkapan lainnya, misalnya seorang bapak berambut ikal dan  ibu berambut lurus, bila percampuran kromosom itu lebih dominan gen bawaan bapak, manusia baru akan mempunyai rambut ikal bahkan sebelum dilahirkan, namun bila yang lebih dominan gen bawaan ibu maka dibentuklah rambut lurus dalam rahim ibu, dan sifat itu akan dibawa sampai akhir hayat.
Secara sistem kerja DNA sangat berbeda dengan MMC atau card memori lainnya, kalo card memori tidak dapat mempengeruhi program induk dalam alat induk yang terpasang, tapi DNA sangat mempengaruhi program hidup manusia, bahkan DNA merupakan serangkai urutan detail tentang jalannya seorang manusia, maksudnya disini, MMC sebatas menyimpan data berupa lagu, photo atau lainnya, bila tidak diaktifkan oleh perintah atau program lain maka tidak akan bisa jalan dengan sendirinya. MMC tidak dapat jalan dengan sendirinya apalagi melindungi dirinya dari gangguan dari luar. DNA Allah, hebat bukan!
Saudaraku, satu molekul DNA terdapat informasi untuk mengisi 1.000.000 (satu juta) halaman Ensiklopedi, yang digunakan untuk mengendalikan, mengontrol fungsi tubuh manusia, kira-kira kalau dianalogkan dengan komputer atau laptop sebesar apa?
Merupakan suatu kesalahan besar bila kita tidak mau bersujud, bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita.
Maha Besar Allah, yang telah merancang DNA yang kecil.
Saudaraku, ada sebagian ahli menyatakan hanya 3% jumlah DNA manusia yang baru diketahui dan itupun sangat vital fungsinya, sedangkan sisanya ada 97% yang belum diketahui dan sudah barang tentu sangat berpengaruhi sekali tentang perkembangan mentalitas, kesehatan dan perkembangan tubuh, moralitas, stabilitas, ketahanan badan. Semua faktor yang asalnya dari dalam diri manusia itu sendiri.
Sebuah tantangan baru bagi saintifik-saintifik Islam untuk meneliti 97% unsur DNA yang belum diketahui, semua itu untuk generasi penerus.

Sumber lain :

Minggu, 11 September 2011

Ruh Quran


Seperti biasa selepas sholat Asar di bulan Romadlon, aku “leyeh-leyeh” melepas lelah dan penat , dan seperti biasa bapak tua itu tadarus Quran, posisiku rebahan didepan agak serong kira-kira dua meteran dari bapak tua yang senantiasa duduk disebelahku ketika sema’an Quran,  yang tidak biasa pada hari itu disebelahnya ada orang lebih tua duduk disebelah bapak tua dengan menundukkan kepala, matanya tajam. Wajahnya bersih, senyumnya sejuk, hal itu aku rasakan ketika aku tersenyum padanya ketika kami beradu pandang.

Ini nak orang yang aku janjikan akan kukenalkan padamu, ucap pak tua itu, ternyata beliau pedagang kitab, warungnya berada disekitar Masjid Agung namun agak jauh, kira-kira setengah kilometer. Kamu bisa belajar sedikit ilmu tentang Al Quran pada beliau. Begitu bapak tua memperkenalkanku setelah beliau selesai tadarus.

setelah kami berkenalan aku terhenyak oleh pernyataan beliau yang agak nyeleneh, Apa yang akan kau pelajari dari buku Al Quran ini anak muda, ini bukanlah kitab Suci.”

Apa? Beliau bilang Al Quran bukan kitab Suci? Yang benar saja.

Anak muda, janganlah berburuk sangka terhadap sebuah pernyataan yang “NYELENEH” agak ekstrem, atau tidak cocok dengan penalaran umum.

Menurut pendapat saya dan beberapa Kyai memang begitu, bahwa Al Quran itu hanyalah kumpulan kertas yang berisi oret-oretan berbentuk baku, namun untuk kalangan umum kami masih tetap sepakat bahwa itu adalah kitab yang patut di hargai. Kenapa? Karena kitab atau buku ini merupakan bungkus terluar dari sebuah bungkus yang berisi kemasan dan dalam kemasan itulah sejatinya Al Quran itu berada.

Maka kalau ada orang yang mengatakan kitab suci al Quran bukanlah kitab Suci janganlah kaget , karena dia sedang berbicara pada wilayah bungkus terluar itu, bungkus terluar boleh dikeluarkan oleh penerbit, percetakan, ataupun lainnya, dan cara pembuatannyapun kadang tidaklah suci, maksudku waktu pencetakan ‘mungkin’ si pencetak tidak pakai baju, berkeringat, belum wudlu, dan anggapan lain. Atau dalam waktu pengepakan, pengiriman terselip kotoran yang membuatnya tidak suci, dan terserah bagaimana pokoknya bungkus terluar tersebut  dianggap tidak suci, namun kau akan mencium bau wangi dari sebuah bungkus terluar dari kemasan minyak wangi, dan kau akan tetap mecium aroma sedap nasi padang, pada bungkus terluarnya. Bungkus terluar tersebut ikut dihargai karena didalamnya masih ada isinya, coba saja kamu beli satu pak rokok, bungkus terluar itu kemanapun ikut kamu, karena didalamnya masih ada rokoknya walaupun tinggal sebatang, apa yang terjadi terhadap bungkus rokok itu bila isinya telah habis?

Anak muda, Walaupun kitab ini berupa bungkus terluar dari sebuah Qalam Ilahi, esensi dari bungkus terluar adalah melindungi dan membuat isinya utuh dengan adanya bungkus terluar itu bungkusan yang berada di dalam yaitu berupa rangkaian huruf arab, yang tersusun berupa ayat dan dari kumpulan ayat itu terbungkus dalam surat.

Anak muda, bungkusan ayat-ayat atau lebih mungkin kalimat-kalimat yang terkandung dalam Al Quran, Rosulullah menerima dalam bentuk Bungkusan kedua ini, berkat Rahmad dan Hidayah dari Allah beliau mampu membuka Esensi dari bungkusan kedua dan ketiga sehingga Qolam Ilahi benar-benar menyatu dalam dirinya.

Hai anak muda, sudah berapa bungkus kau kantongi dalam benakmu, coba saja mari kita sama-sama baca suratul fatihah, apa yang saya rasakan tentu beda dengan yang kamu rasakan.

Begini anak muda, Allah itu sesungguhnya mencintai manusia, dan ingin menjadikannya sebagai khalifah, maka dibekalilah surat cinta berupa Al Quran.

Kamu sudah punya pacar? Pernah nulis surat cinta? Atau pernah dapat surat cinta? Cobalah suruh orang lain baca! Ada sebagian orang dapat merasakan ESENSI yang terkandung dalam makna kata “RINDU” begitu hanyut dalam makna rindu, namun ada pula yang merasakan biasa saja ketika membaca kata RINDU, kamu pasti bisa merasakan makna kata tersebut sambil membayangkan wajah cantik pacarmu, kan! Setelah itu kau dekap surat itu, kemudian kau ucapkan aku juga rindu. Apakah kamu bisa menganalogikan bahwa Al Quran itu surat CINTA ALLAH kepada HAMBANYA.

Anak muda, Ruh Al Quran itu akan hidup ketika kau baca dengan kehadiran RUHmu, RUH bi RUH! Namun bila kau baca sebatas bibir saja, ya yang ada hanya kalimat-kalimat biasa, cobalah sesekali , mandilah tengah malam, pakailah pakaian terbaikmu, siapkan dirimu, dekaplah Quran lima menit saja sebelum kau baca, kemudian bacalah dengan tenang hadirkan RUHmu biarkan dia bercinta dan bersendau gurau dengan RUH Quran, kau kadang akan menangis ketika ada kata ALLAH, tetesan air matamu akan mengukir jiwamu membuatmu tenang, semakin sering kau lakukan semakin akrab dengan Ruh Quran bersamamu, Insya Allah sifat menghamba akan semakin muncul, dan sifat majikan akan luruh.

Ketika kau mampu melakukan demikian kau sebenarnya telah mampu membaca kitab SUCI, Ruh Quran tak mungkin ternoda, Fitrah seperti asalnya ketika diturunkan pada Hamba Allah pilihan. Ya menurutku hanya beliaulah yang betul-betul telah bercinta dengan Ruh Quran sehingga menyatu dalam diri, perilaku dan semuanya menjadi Qurani, Beliaulah Al Quran hidup.

Anakmuda, akankah Ruh Quran hidup dalam diri kita? Lantas bagaimana caranya? teman guru matematika saya bilang, Orang akan mahir Matematika jikalau dia sering belajar dan berlatih dengan tekun, demikian juga Ruh Quran akan hidup dalam diri kita kalau kita mau menghidupkannya dengan sering bercumbu dengannya tengah malam, kenapa tengah malam? Ya karena tengah malam sedikit gangguan dan kebisingan. Semakin sering kita berlatih mempertemukan ruh kita dengan ruh Quran, maka dengan sendirinya tanpa kita minta Ruh Quran akan bersama kita dengan ditandai segala tindaktanduk kita menjadi Qurani.

Anak muda, maaf aku hanya bisa memberimu sebatas demikian, karena aku sendiri sedang dalam perjalanan mencumbu Ruh Quran dan masih terus berlatih.

Kedua bapak itu berpamitan karena memang waktu mendekati adzan maghrib, oooooh Romadlon terima kasih.

                                        

Sabtu, 10 September 2011

Kekhawatiran seorang teman.

Selepas Romadlon 1432H, dirasakan oleh seorang fakir ilmu, tentang perbedaan yang dirasakannya ketika mengisi hari-hari Romadlon dan betapa berat dia bayangkan hari kedepan dalam mengamalkan hasil renungan dan hasil pembelajaran selama Romadlon.

Biasanya, selepas sahur dia datang ke Masjid Agung untuk mendengarkan pengajian, walaupun terkantuk-kantuk bahkan tertidur, namun dia rasakan kedamaian yang menyejukkan, setelah pengajian selesai dan setelah mencium tangan pak Yai, dia ambil air wudlu dilanjutkan dengan sholat dhuha, sekitar jam 9 pagi baru dia meninggalkan masjid, untuk melaksanakan kewajibannya memenuhi nafkah anak dan istri.

Sekitar jam 11.30, dia tutup sementara warungnya, berbekal tas lusuh berisikan sarung lusuh dan baju koko’ lusuh pula, dan satu lagi terselip Al Quran yang tak kalah lusuhnya, entah berapa usianya dan berapa kali dibuka, dari kertasnya aku perkirakan usia Al Quran itu kisaran 20 tahunan, berangkatlah ke Masjid Agung, setelah melaksanakan serangkaian persiapan dan sholat sunah,  adzanpun berkumandang.

Sekali lagi, walau dengan terkantuk-kantuk bahkan sempat tertidur, selalu aktif ikut sema’an Quran yang dibawakan oleh kyai besar dimasjid Agung tersebut, seperti biasanya dia mengambik tempat Pilar kedua sebelah utara serambi masjid, tepat ditengah. CERDAS pikirku, dengan mengambil tempat disitu pandangan ke kyai kharismatik yang HAFIDZ Quran itu tidak terhalang namun tidak terlapau dekat, sehingga kalau kantuk tidak begitu kelihatan, dan itupun pilihanku, selalu dia duduk disebelahku.

Sema’an Quran selesai sebelum adzan Sholat Ashar, dan selepas sholat biasanya dia sempatkan tadarus Quran dengan Juzz dan ayat yang dibacakan oleh pak Kyai tadi, setelah itu baru dia kembali ke warung, mungkin sekitar jam 4 sore dan jam 5 sore lebih seperempat warung ditutup, pulang.

Kami biasanya ketemu kembali jam 10 malam di pondok pesantrennya pak Kyai, yang tiap habis sholat dhuhur melakukan sema’an Quran, berbeda dengan siang hari, kalau malam pak kyai melakukan pengajian kitab, untuk tahun ini beliau mengambil kitab Ihya’ ulumuddin karangan imam Ghozali ra, padahal kami mengharap beliau akan menkaji kita al hikamnya ibnu athoilah, seperti tahun-tahun kemarin, karena ceritanya  pelengkapnya heboh dan memberi semangat, namun kami tak akan menolak, bagi kami apapun kitab yang akan dikaji dan apakah kami sudah pernah atau belum, sangat menyenangkan bisa mengisi harihari puasa seperti ini.

Pengajian kitab biasanya selesai tengah malam, dan seperti biasa aku tawari tumpangan selalu menolak lebih memilih naik sepeda onthel miliknya yang sudah berkarat, terus terang aku tak tahu apa yang dilakukan oleh bapak itu setelah pulang dari pondok pesantren, apakah langsung tidur apa qiyamul lail, atau apa. Namun aku berbaik sangka pada beliau pasti tidak langsung tidur.

Dan cerita ini saya ambil dari kisah beliau yang masih saja mengaku FAKIR ILMU, membuat saya tertohok tak berdaya.

Terus terang saja nak, beliau menjelaskan, dari pengajian-pengajian yang pernah saya ikuti, saya sangat terkesan oleh kesimpulan seorang Kyai yang menyatakan bahwa puncak tertinggi jabatan seorang manusia adalah HAMBA ALLAH, bahkan Nabi Muhammad SAW pun dalam melaksanakan Isro’ Mi’roj, yang merupakan peristiwa fenomenal itu, posisi beliau tak lebih dari seorang HAMBA.  Kata pak Kyai itu dapat dibuktikan di AlQuran, namun saya nggak tahu surat apa dan ayat berapa?
Terus terang saja, saya ngaji Alquran dari kecil sampai sekarang , masih belum paham arti dan makna yang terkandung dalam AlQuran, sehingga saya kadang lupa kisah Isro’ Mi’roj itu di surat apa dan ayat berapa? Bahkan saya punya teman sangat ekstrem terhadap Al Quran, kapan-kapan saya kenalkan. Oleh-oleh seorang hamba  Allah yang mulia dari sebuah perjalanan Isro’ wal Mi’roj adalah SHOLAT dan mungkin hanya ibadah mental dan fisik sholatlah yang mampu dilaksanakan oleh semua umat, dan diwajibkan untuk semua manusia beriman tanpa kecuali, dan sholat merupakan manifestasi seorang hamba Allah kepada Robb-Nya.

Dengan menjadi HAMBA dan memahami posisi kita sebagai HAMBA, hidup kita akan terasa tenang dan tenteram, dan pada akhirnya makna khalifah akan kita raih.

Khalifah itu sebenarnya adalah seseorang HAMBA ALLAH yang mampu menterjemahkan dan kemudian menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, nama-nama yang diajarkan Robb Al Alamin kepada HAMBA ALLAH, dan HAMBA ALLAH yang pertama kali diajarkan nama-nama itu adalah nabi Adam AS.

Dengan menjadi hamba Allah secara utuh, seolah-olah kita menjadi pipa yang tersalurkan dari sebuah menara air, kalo menara air itu berisi air rasa “Rohman” maka kita akan menyalurkan rasa Rohman itu pada sesama atau pada yang membutuhkan, Kalo menara air itu berisi air “Rejeki” ya, rejekilah yang akan kita salurkan pada sesama, dan andaikata berisi air rasa “Ghofur”, ya kita harus mampu menyalurkan maaf kepada sesama.

Nak, ada beberapa Kyai yang mengartikan sesama atau yang membutuhkan itu secara lebih luas tidak hanya pada Manusia saja, namun sesama makhluk. Ya semua makhluk ciptaan Allah SWT. Tidak terbatas pada golongan.

Nak, hari-hari kemarin dimana kita duduk berdampingan, walau sebelumnya kita tidak saling mengenal, adalah hari-hari indah yang tak akan aku sia-siakan, dimana kita benar-benar bisa merasakan sebagai hamba Allah sejati, kalau tidak terbatasi dengan kelemahan fisikku ini, ingin rasanya tiap detik bercumbu dengan  Allah SWT, malam lewat qiyamul Lail, tadarus, sema’an, pengajian dan dzikir.

Kekhawatiranku, akankah aku sanggup mempertahankan rasa nikmatnya bercengkrama denganNya pada bulan selanjutnya, mampukah saya mempertahankan rasa perintah Allah sebagai suatu nikmat, mampukah saya mempertahankan rasa menjadi HAMBA itu suatu kemuliaan yang sangat besar.

Nak, lihatlah sekeliling kita, telah banyak jebakan yang mengepung kita, dan itu akan meningkat  11 bulan kedepan, semakin hari semakin bertambah saja godaan yang akan kita hadapi, walaupun aku selalu memohon diberi kekuatan dalam menghadapinya, namun kadang hati ini sering terpeleset.

Tidak hanya itu, Nak. Tanggung jawabku tentang amanah Allah berupa anak itulah yang aku khawatirkan, anak-anakku  lebih senang nonton sinetron atau acara lain di TV selepas Maghrib, dibanding membaca atau tadarus AlQuran, mereka lebih mengidolakan artis dibanding Nabinya, mereka lebih tanggap bila nada panggil Hpnya berbunyi dibandingkan dengan kumandang adzan, mereka lebih suka bangun tengah malam hanya untuk acara sepakbola di TV dibanding tahajud. Saya sudah menasihati , mengajak, memberi contoh, bahkan seringnya memerintah untuk segera melaksanakan kebaikan berupa sholat, dan baca Quran, bahkan saya bikin aturan HARAM TV hidup antara Maghrib sampai Isya’. Nampaknya semakin sulit saja, setelah ada HP.

Coba perhatikan Nak, akankah Masjid Agung seramai kemarin waktu Romadlon? Akankah AlQuran di almari itu jadi rebutan? Itu Masjid Agung nak, yang masjid kampung nasibnya terus bagaimana?