Minggu, 11 Agustus 2013

Masa Herbal adalah masa Bingung (13 Desember 2012 – 31 Mei 2013)



Masa Herbal adalah masa Bingung
13 Desember 2012 – 31 Mei 2013

Edisi Yogyakarta.

“ Aku nggak mau Operasi”, begitu kata istriku tegas sambil melangkah meninggalkan Rumah Sakit Kariadi, setelah pesan kamar di bagian informasi, dan kami mendapat urutan 48.

Di tempat parkir aku tercenung, haruskah pengalaman lama terulang kembali setelah mendiang almarhumah ibuku juga mengalami hal yang demikian, beliau menderita “Kanker Kelenjar” hingga meninggal dunia, awalnya hanyalah benjolan kecil di paha sebelah kanan, kemudian di vonis “Amputasi” oleh dokter, namun setelah keluarga menyetujui, dokter membatalkan untuk melakukan amputasi dikarenakan akarnya sudah masuk ke perut, dan sakit itu dibawa sampai meninggal dunia.

Ditengah galaunya suasana hati, aku sms temanku Imam Badrus Samsi, bahwa istriku harus operasi, dan beliau meng’upload’ menjadi sebuah status di jejaring sosial Facebook, aku ceritakan kondisi dan keputusan sementara istriku kepada teman yang menghubungiku dan mereka memberikan rekomendasi tentang pengobatan alternatif dan atau herbal, bahkan ada yang mengirimi sarana penyembuhan dan segala upaya dari teman-teman, banyak informasi yang kudapat salah satunya adalah Yogyakarta, Malang, Salatiga, Temanggung dan masih banyak kota lain.

Aku memilih Yogyakarta sebagai kota awal melakukan hunting herbal, karena dikota tersebut banyak teman yang aku kenal, sehingga berbagai informasi yang aku butuhkan dan akses kesuatu tempat akan menjadi mudah, walaupun aku agak hafal daerah Yogjakarta, namun aku tetap menghargai teman sebagai petunjuk jalan. Referensi Yogyakarta ini aku dapatkan dari Ahmad Kasyful Anwar, yaitu

dr. Eko Wahyuni
Alamat: Jl Gedong Kuning Raya 165 RT 008/34, Banguntapan, Bangun Tapan
Kota: Yogyakarta
Kode pos: 55198
Nomor Telepon: 0274 382786 - 0274 382770

Hari minggu 13 Januari 2013, merupakan awal perjalanan pencarian herbal sebagai alternatif pengobatan, tahukah engkau apa yang aku khawatirkan dalam perjalanan ke Yogjakarta? Adalah kambuhnya istriku ditengah jalan, sedang aku mengendari kendaraan roda 2, maka aku jalan sangat pelan. Jam 07.00 kami berangkat, jam 09.00 istirahat di Pringsurat, sampai di Mabesthir sekitar jam 11.00, setelah sholat ashar kami berangkat ke dr. Eko Wahyuni bersama Triwibowo dan Ambar Setiawan, disana yang kami dapatkan sebatas informasi karena buka prakteknya hari Selasa dan Kamis, banyak informasi yang kami dapatkan kecuali harga dan biaya pengobatan secara total, dan kami putuskan untuk hari Kamis kami akan ke Yogya lagi.

Kamis, tanggal 17 Januari 2013. Kami berangkat ke Yogya kembali namun tidak mampir ke Mabesthir, langsung ke Gedung Kuning tempat dr. Eko Wahyuni praktek. Setelah melakukan pendaftaran dan menunggu tak begitu lama kami dipanggil untuk melakukan pemeriksaan, berkas MRI dan hasil laborat kami serahkan untuk dianalisis, Alhamdulillah beliau memberikan informasi yang menggembirakan istriku dengan kesanggupannya mengobati sampai sembuh dan masih bisa ditangani. Setelah beberapa saat kami mendapatkan resep khusus 1 bulan pertama dikarena tempat tinggal kami jauh, dan kami dimohon periksa setelahnya untuk dipantau perkembangannya, 4 (empat) bulan selanjutnya kami dimohon untuk melakukan MRI kembali untuk melihat hasil perkembangan pengaruh obat dan kami mengiyakan.

Setelah kami keluar kamar periksa, langsung menuju ke penerima tamu untuk menukarkan dan meminta informasi seputar resep kunir putih. Dari beliau kami dianjurkan untuk membeli ramuan kunir putih hasil olahan dr. Eko Wahyuni paket awal untuk bulan I dan II, harganya sekitar Rp. 3.000.000 untuk paket bulan III dan IV harganya Rp. 2.500.000 sehingga total termasuk MRI kira-kira Rp. 15.000.000,-

Terus terang pada saat ini kami sedang dalam kondisi ekonomi lemah dengan kas tabungan untuk sekolah anak tinggal Rp. 5.000.000,- hal ini saya diskusikan dengan istriku sebaiknya langkah apa yang harus dilakukan, karena jangan sampai mengambil keputusan ditengah jalan, akhirnya kami putuskan untuk mengambil obat minggu depan sambil mencari alternatif lainnya, dengan alasan tidak bawa uang kami minta ijin pulang.

Di Yogya, hari itu, aku juga telah berjanji dengan drg. Tommy Adhitama, di daerah Gamping yang juga ahli pengobatan herbal dan Yumeiho sekitar jam 14.00, waktu luang kami manfaatkan untuk mengunjungi teman kami di daerah Wirobrajan, Bantul.

Kamis, 01 Agustus 2013

Kisah Rosulullah SAW dan seorang pengemis Yahudi Buta



Kisah Rosulullah SAW dan seorang pengemis Yahudi Buta.



“Hari ini aku mau cerita yang mana cerita itu sudah pada makfum paham bahkan sudah ada yang hafal, yaitu cerita tentang : Seorang Pengemis Yahudi Buta.”
Kata Abah Kyai setelah duduk.

Baiklah aku mulai :

.........  seorang pengemis Yahudi buta di pojok pasar Madinah yang selalu menjelek-jelekkan Rasulullah Saw. Setelah Rasulllah Saw meninggal dunia, Abu Bakar ash-Shiddiq mengunjungi Aisyah, anaknya yang juga isteri Rasulullah Saw. Sesampainya di rumah Aisyah, Abu Bakar bertanya kepada anaknya apa sunnah Rasulullah yang belum dikerjakan olehnya. Aisyah menjawab bahwa Rasulullah Saw setiap memberi makan pengemis Yahudi buta di pasar Madinah.
Abu Bakar pun bergegas menuju pasar Madinah menemui orang Yahudi tersebut yang tak henti-hentinya menjelek-jelekkan Rasulullah Saw. Namun, karena ingin mengikuti sunnah Rasulullah Saw, Abu Bakar tetap memberi makan Yahudi buta tersebut dengan cara menyuapinya. Namun alangkah kaget Abu Bakar karena saat menyuapi Yahudi tersebut berkata, “Siapa kamu? Orang yang biasa menyuapiku makan tiap hari terlebih dahulu melembutkan makanan sehingga mulutku tidak perlu mengunyah makanan”.
Kemudian Abu Bakar berkata kepada pengemis Yahudi buta itu bahwa orang yang biasa memberinya makan tiap hari telah tiada. Abu Bakar juga mengatakan bahwa orang yang biasa memberinya makan tiap hari adalah Rasulullah Saw. Betapa terkejut Yahudinya tersebut mengetahui bahwa orang yang menyuapinya adalah Rasulullah Saw; orang yang setiap hari dijelek-jelekkannya. Akhirnya pengemis Yahudi buta itu masuk Islam.


Santri-santriku, cerita itu sudah sering kita dengar atau bahkan sering kita baca, namun sampai saat ini hanya sedikit yang dapat  mengambil pelajaran, padahal cerita tersebut sangat sarat akan suri tauladan.

Perhatikan,
Seorang pengemis, bukan penguasa, Yahudi bukan hanya muslim, di pojok pasar bukan di hotel berbintang ataupun rumah mewah, tak luput dari perhatian Nabi SAW, begitu perhatiannya beliau pada manusia. Ini memberikan pelajaran pada kita untuk menyayangi manusia tanpa melihat siapa?, bagaimana?, dimana?, Kenapa? Dan berbagai pertanyaan lain,  saya justru melihat beliau memandang dari sisi manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, dengan menghargai ciptaannya, sebisa mungkin kita menghargai Sang Pencipta. Subhanallah.

Setiap pagi, menyuapi si Pengemis, dengan melumatkannya dulu makanan sehingga lebih mudah dicerna, betapa mulia dan luhur kepribadian Rosulullah SAW, disini pelajaran yang dapat kita ambil adalah dalam membantu seseorang harus tuntas, sampai hal-hal yang terkecilpun harus kita lakukan, dan dilakukan disaat yang tepat, hal ini digambarkan dengan waktu yang dilakukan pagi hari, dimana tubuh membutuhkan asupan makanan, untuk melakukan aktivitas. MasyaAllah..!

Pencaci, ya..! si Pengemis tersebut  adalah seorang Yahudi yang sering mencaci maki, menjelek-jelekan, menghina, mengumpat beliau Rosulullah SAW. Dan itu dilakukan setiap hari di pojok pasar di tempat berkumpulnya orang.

“Aku yang begini, tak bisa membayangkan apalagi meniru persis Beliau SAW, lihat santri macem-macem langsung saja, hatiku sudah mangkel, kalo perlu tak sidang.” Abah mengalihkan alur cerita dengan membandingkan.

Apalagi sambil nyuapin di hina dihadapan orang banyak tiap pagi. Tingkat kesabaran, ketabahan  yang luar biasa. Sulit dicari dijaman sekarang ini, lha terus bagaimana dengan kita sekarang ini?

Santriku,
Dari cerita diatas penggalan yang manakah yang sudah kita jadikan panutan? Yang sudah kita terapkan dalam hidup sehari-hari. Sudahkah kita menghormati segala ciptaan Allah apapun bentuknya? Apapun  namanya?
Santriku,
Sudahkah engkau mempermudah perkara orang sesuai dengan porsinya, hari ini? Sampai sedetil-detilnya?
Santriku,
Sudahkah engkau menahan marahmu ketika dicaci maki orang?

Kalau engkau memang mengakui bahwa beliau SAW, merupakan sumber inspirasi , tempat “USWATUN KHASANAH” sudah selayaknya perilaku beliau ini engkau terapkan dalam kehidupan sehari-hari sedikit demi sedikit, asal istiqomah.

"Pahaaam......!"

“Pahaaaaam, abaaah.....” bagaikan koor para santri menyaut.
“Ya sudah sekarang nDarusnya teruskan.”

Minggu, 28 Juli 2013

SYAIKH MAULANA ISHAQ



SYAIKH MAULANA ISHAQ, ANGGOTA WALI SONGO PERIODE 1, AHLI PENGOBATAN ISLAM

Oleh: KH.Shohibul Faroji Al-Robbani

Maulana Ishaq adalah anak dari Sayyid Husain Jamaluddin. Yang bergelar Syekh Jumadil Kubro. Maulana Ishaq adalah adik dari Maulana Malik Asmaraqandi [Sunan Gresik]
Pembaca perlu membedakan antara Syaikh Jumadil Kubro [ayah Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishak ini] dengan Maulana Ahmad Jamadil Kubro. Dua orang yang berbeda.
Sama dengan kakaknya, yaitu Maulana Malik Ibrahim Asmaraqandi [Sunan Gresik]. Maka Maulana Ishaq dilahirkan di Samarkand, Uzbekistan. Dahulu bagian dari wilayah Kerajaan Turki Utsmani. Dalam satu data, ditemukan bahwa Maulana Ishaq ini adalah masih kerabat dan guru dari Laksamana Cheng Ho.
Nasab keluarga Maulana Ishaq yang lengkap dan benar adalah: Maulana Ishaq bin Husein Jamaluddin [Syaikh Jumadil Kubro] bin Ahmad Syah Jalaluddin bin 'Abdullah Khan bin Abdul Malik Azmatkhan bin 'Alwi 'Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin 'Ali Khali Qasam bin 'Alwi Shohib Baiti Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah bin 'Alwi Al-Mubtakir bin 'Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin 'Isa An-Naqib bin Muhammad An-Naqib bin 'Ali Al-'Uraidhi bin Imam Ja'far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.
Hubungannya dengan Wali Songo yang lain adalah: [Maulana Ishaq adalah adik kandung Maulana Malik Ibrahim Asmaraqandi yang bergelar Sunan Gresik], [Maulana Ishaq adalah paman dari Sunan Ampel Surabaya dan Sayyid Ali Murtadha yang bergelar Sunan Santri atau Raden Santri atau Raja Pendeta], [Maulana Ishaq adalah ayah kandung dari Sunan Giri Gresik], [Maulana Ishaq adalah kakek paman dari Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Sunan Ngudung] dan [Maulana Ishaq adalah Buyut paman dari Sunan Kudus].

Dakwah Maulana Ishaq ke Belambangan Banyuwangi
Di awal abad 14 M. Kerajaan Blambangan diperintah oleh Prabu Menak Sembuyu, salah seorang keturunan Prabu Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit. Raja dan rakyatnya memeluk agama Hindu dan ada sebagian yang Memeluk agama Budha. Kerajaan Blambangan terdapat di daerah Banyuwangi Selatan, dekat dengan daerah Muncar.
Pada suatu hari Prabu Menak Sembuyu gelisah, demikian pula permaisurinya, pasalnya putri mereka satu-satunya telah jatuh sakit selama beberapa bulan. Sudah diusahakan mendatangkan tabib untuk mengobatinya tapi sang putri belum sembuh juga.
Memang pada waktu itu kerajaan Blambangan sedang dilanda pegebluk atau wabah penyakit. Banyak sudah korban berjatuhan. Menurut gambaran babad Tanah Jawa esok sakit dan sorenya mati. Seluruh penduduk sangat prihatin, berduka cita, dan hampir semua kegiatan sehari-hari menjadi macet total,

Atas saran permaisuri Prabu Meunak Sembuyu kemudian mengadakan sayembara, siapa yang dapat menyembuhkan putrinya akan diambil menantu dan siapa yang dapat mengusir wabah penyakit di Blambangan akan diangkat sebagai Bupati atau Raja Muda.
Sayembara disebar dihampir pelosok negeri. Sehari, dua hari, seminggu bahkan berbulan-bulan kemudian tak ada seorangpun yang menyatakan kesanggupannya untuk mengikuti sayembara 'itu.
Permaisuri makin sedih hatinya. Prabu Menak Sembuyu berusaha menghibur isterinya dengan menugaskan Patih Bajul Sengara untuk mencari pertapa sakti guna mengobati penyakit putrinya,
Diiringi beberapa prajurit pilihan, Patih Bajul Sengara berangkat melaksanakan tugasnya. Para pertapa bisanya tinggal di puncak atau lereng-lemng gunung, maka kesanalah Patih Bajul Sengara mengajak pengikutnya mencari orang-orang sakti, Patih Bajul Sengara akhirnya bertemu dengan Raja Kandaya yang mengetahui adanya seorang tokoh sakti dari negeri seberang. Orang yang dimaksud adalah Syekh Maulana lshaq yang sedang berdakwah secara sembunyi-sembunyi di daerah Blambangan. Tepatnya di Kota Banyuwangi [Sekarang tempat berdakwahnya Maulana Ishaq, oleh masyarakat Banyuwangi dibangun sebagai Masjid dan di beri nama Masjid Jami’ Baiturrahim, di depan Polres Banyuwangi].
Patih Bajul Sengara dapat bertemu dengan. Syekh Maulana lshak yang sedang bertafakkur di sebuah goa yang terdapat di kawasan Rogojampi, di daerah Cemoro. Setelah terjadi negosiasi bahwa Raja dan Rakyat Blambangan mau diajak memeluk agama Islam maka Syekh Maulana Ishak bersedia datang ke istana Blambangan. la memang piawai dibidang ilmu kedokteran, putri Dewi Sekardadu sembuh dan setelah diobati Pagebluk juga lenyap dari wilayah Blambangan.
Sesuai janji Raja maka Sekh Maulana Ishak dikawinkan dengan Dewi Sekardadu. Diberi kedudukan sebagai Adipati untuk menguasai sebagian wilayah Blambangan tepatnya di Banyuwangi bagian Utara, yang sekarang menjadi Kota Banyuwangi. Dari daerah sinilah lahir seorang bayi mungil yang elok, namanya Sayyid ’Ainul Yaqin yang kelak setelah dewasa bergelar Sunan Giri. Oleh masyarakat Banyuwangi, daerah kelahiran Sunan Giri, dijadikan nama desa dan kecamatan, yaitu Kecamatan Giri.
.
Hasutan dan Fitnah kepada Maulana Ishaq
Tujuh bulan sudah Syekh Maulana Ishak menjadi Adipati baru di Blambangan. Makin hari semakin bertambah banyak saja penduduk Blambangan yang masuk agama Islam. Sementara Patih Bajul Sengara tak henti-hentinya mempengaruhi sang Prabu dengan hasutan-hasutan jahatnya. Hati Prabu Menak Sembuyu jadi panas mengetahui hal ini.
Patih Bajul Sengara sendiri tanpa sepengetahuan sang Prabu sudah mengadakan teror pada pengikut Syakh Maulana Ishak. Tidak sedikit penduduk Kadipaten yang dipimpin Syekh Maulana Ishak diculik, disiksa dan dipaksa kembali kepada agama lama, Walaupun kegiatan itu dilakukan secara rahasia dan sembunyi-sembunyi pada akhirnya Syekh Maulana Ishak mengetahui juga.
Pada saat itu Dewi Sekardadu sedang hamil tujuh bulan. Syekh Maulana Ishak sadar, bila hal itu diteruskan akan terjadi pertumpahan darah yang seharusnya tidak perlu, Kasihan rakyat jelata yang harus menanggung akibatnya. Maka dia segera berpamitan kepada isterinya untuk pergi meninggalkan Blambangan. Maulana Ishaq pergi menuju Gresik untuk bertemu dengan kakaknya, yaitu Maulana Malik Ibrahim, seminggu kemudian dia menuju Ampel Denta menemui keponakannya, yaitu Sunan Ampel dan menitipkan bayinya yang masih ada di Blambangan. Maulana Ishaq kemudian berlayar menuju Kerajaan Samudera Pasai, dan berdakwah di sana.
Demikianlah, pada tengah malam, dengan hati berat karena harus meninggalkan isteri yang hamil tujuh bulan, Syekh Maulana Ishak berangkat meninggalkan Blambangan seorang diri. Besok harinya sepasukan besar prajurit Blambangan yang dipimpin Patih Bajul Sengara menerobos masuk wilayah Kadipaten yang sudah ditinggalkan Syekh Maulana lshak,Tentu saja Patih kecewe, walau seluruh isi istana di obrak-abrik dia tidak menemukan Syakh Maulana Ishak yang sangat dibencinya.
Dua bulan kemudian dari rahim Dewi Sekardadu lahir bayi laki-laki yang elok rupawan. Sesungguhnya Prabu Menak Sembuyu dan permaisurinya merasa senang dan bahagia melihat kehadiran cucunya yang tampan dan rupawan itu. Bayi itu lain daripada yang lain, wajahnya mengeluarkan cahaya terang.
Lain halnya dengan Patih Bajul Sengara. Dia menghasut Prabu Menak Sembuyu agar terus membunuh Syaikh Maulana Ishaq dan membunuh bayinya. Kebetulan setelah ditinggal Maulana Ishaq, kondisi Blambangan menjadi terjangkit lagi oleh penyakit Pagebluk tersebut. Penyakit pagebluk semacam penyakit Tho’un atau virus flu burung atau flu babi.
Patih Bajul Sengara menghasut Raja dengan berkata: "Bayi itu ! Benar gusti Prabu ! Cepat atau lambat bayi itu akan menjadi bencana di kemudian hari. Wabah penyakit inipun menurut dukun-dukun terkenal di Blambangan ini disebabkan adanya hawa panas yang memancar dari jiwa bayi itu !" kilah Patih Bajul Sengara dengan alasan yang dibuat-buat. Sang Prabu tidak cepat mengambil keputusan, dikarenakan dia terlanjur menyukai kehadiran cucunya itu, namun sang Patih tiada bosan-bosannya menteror dengan hasutan dan tuduhan keji akhirnya Sang Prabu terpengaruh juga.
Walau demikian tiada tega juga dia memerintahkan pembunuhan atas cucunya itu secara langsung, Bayi yang masih berusia empat puluh hari dimasukkan ke dalam peti dan diperintahkan untuk dibuang ke Samudera. [Bersambung ke Biografi Sunan Giri].
Bagaimana dengan Maulana Ishaq?. Maulana Ishaq kemudian singgah ke Gresik menemui Maulana Malik Ibrahim, untuk melaporkan hasil dakwahnya di Blambangan dan meminta saran kepada kakaknya itu sebagai ketua Wali Songo Periode 1. Oleh kakaknya, Maulana Ishaq disarankan ke Surabaya dulu untuk beristirahat selama 40 hari menemui Sunan Ampel, dan ditugasi untuk berdakwah ke Kerajaan Samudera Pasai. Kebetulan Kerajaan Samudera Pasai membutuhkan seorang Penasehat [Mufti]. Maulana Ishaq menjadi Anggota Wali Songo selama 2 Periode. Kemudian pada periode ke 3 digantikan oleh putranya, yaitu Sunan Giri. Dari data yang didapatkan oleh penulis, Maulana Ishaq wafat di Singapore yang saat itu merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Samudera Pasai. Dan dimakamkan di sana.

Kejang kedua



Kejang kedua
9 Desember 2012

Malam itu kisaran pukul 04.00, selepas sholat subuh kudengar keluhan dari istriku tentang tangan kirinya yang nggak terkontrol.

“Mas…maaaas tanganku, maaaas tanganku”, sambil mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi.
Segera kususul ternyata dia sudah mulai menggelepar dan kejang, sesuai petunjuk dari artikel yang aku baca maka aku posisikan miring dan kujaga, tanpa bisa bertindak apapun hanya memandangi istriku kejang dalam ketidak berdayaan, setelah semua fase terlewati, seperti halnya kejang pertama, aku menganjurkan dia untuk periksa dokter keluarga nanti malam.

Dokter keluargaku dengan jaminan ASKES, dr. Taqwa Rini, memberi rujukan ke dokter syaraf di RS Kariadi Semarang. Esok paginya kami periksa di RS. Kariadi, di Pavilyun Garuda, dan aku memilih Prof. Amin Husni sebagai dokter spesialis syaraf. Pada pertemuan I dengan beliau ini, kami disuruh periksa MRI, karena MRI di RS Kariadi dalam kondisi perbaikan maka kami dibekali surat pengantar untuk melakukan pemeriksaan MRI di RS. Tlogorejo Semarang. Jam 13.00 kami sampai dan jam 15.00 kami dipanggil untuk melakukan pemeriksaan melalui peralatan MRI, setelah kami diberi penjelasan secukupnya, misalnya bahwa MRI adalah Magnetik maka kami tidak diperkenankan memakai segala perhiasan, alat komunikasi (HP), kesemuanya dimasukkan dalam locker,serta penjelasan bahwa bila nanti diperlukan ada tambahan contras maka akan dikenakan biaya tambahan dan kami manut saja, proses pemeriksa berlangsung hampir 1 jam, dengan penyuntikan kontras, istriku hanya berbaring diatas bidang periksa, yang mana atasnya ada lingkaran besar, sebentar-sebentar terdengan bunyi “tuk…tuk….tuuuuk…..”
Hasil pemeriksaan MRI baru dapat diambil 3 jam setelah periksa, tanpa pulang kami meneruskan pemeriksaan lanjutan di lab. CITO untuk periksa darah dan urine, jam 19.00 kami mengambil hasil test MRI, dengan hati berdebar kubuka sampul besar, ternyata berisikan 12 film persis roentgen dan sekeping CD, serta selembar surat hasil diagnosa yang ditujukan kepada Prof. Amien Husni. Sempat aku buka file tersebut dan kulihat.


Esoknya kami sampaikan hasil pemeriksaan MRI kepada Prof. Amien Husni, beliau berbisik padaku tanpa sepengetahuan istriku, “Harus operasi.”
“Ini saya kasih resep dan rujukan ke dokter Bedah Syaraf, Ya!” kata Prof. Amien.
“Baik Prof.” kataku, kemudian perawat mendaftarkan pada dokter bedah syaraf, kembali aku disuruh memilih dokter, dan aku mempercayakan dr. Erry Andhar untuk menanganinya, terlihat perawat menghubungi beliau dan beliau bersedia hadir ke RS Kariadi 2 jam lagi.

Dalam masa menunggu kehadiran dokter spesialis bedah syaraf, pikiran dan perasaanku tidak karuan, bingung memaknai kata-kata Prof. Amien. “OPERASI” ya, bagi sebagian orang termasuk keluarga kami kata-kata itu sangat menyengat dan menakutkan, karena memang belum pernah ada dalam keluarga kami yang mengalaminya, apalagi ini yang dioperasi adalah kepala.
Kesedihan dan kebingunganku terbaca oleh istriku, dia menanyakannya dan kujawab aku belum tahu pasti, tunggulah dokter Bedah Syaraf.
Setelah beberapa saat kami diam dr. Erri Andhar datang dan kamipun dipanggil oleh perawat, setelah melihat dan mengamati photo hasil MRI dan rujukan dari Prof. Amien Husni. Beliau berkata dihadapan kami berdua : “Operasi ya Bu!”.

Serta merta istriku menundukkan kepala, diam, shock.

“Nggak apa-apa, nggak terasa koq. Coba bu berbaring saya periksa.”
Dengan tertunduk lesu istriku melangkah menuju ‘dipan’ periksa.
“Tensi normal, aaah tenang aja, bu...” berkali-kali dokter menenangkan istriku seolah-olah ingin mengganti kesalahan ucapnya yang membuat pasien “shock”. Ya! Itu dilakukannnya berkali-kali bahkan beliau menambahkan satu resep untuk menekan pertumbuhan tumor, selama masa menunggu.
“Terima kasih, Dok” kataku.
“ Dan ini pengantar untuk pesan kamar.”

Setelah menyerahkan berkas pemeriksaan kepada perawat dokter mempersilahkan kami untuk mendaftar ruang di bagian informasi, dan kamipun berpamitan.